27/03/11

Makalah Unsur Instrinsik Cerpen


BAHASA INDONESIA
 










DISUSUN
Oleh :
Dewi Aprilla
XIipa A

SMA Negeri 01 Unggulan Kamanre
Tahun Ajaran 2011
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang atas rahmat-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang unsur instrinsik dalam cerpen.
Dalam penulisan dan penyusunan makalah ini saya merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingatakan kemampuan yang saya miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan dan penyusunan makalah ini saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada Bapak Haerul,S.Pd yang telah memberikan pengarahan dan dorongan dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

Kamanre, 25 Maret 2011


Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………     
DAFTAR ISI ……….…………………………………………………………………     
BAB I    PENDAHULUAN …………………………………………………………       
A.  Latar Belakang ……………………………………………………………    
B.  Rumusan Masalah ………………………………………………………     
C. Tujuan Penulisan………………………………………………………….     
BAB II   PEMBAHASAN .....…………………………………………………………    
A.  Defenisi Tokoh dan Penokohan ...………………………………………   
B.  Cara Mengidentifikasi Tokoh dalam cerpen ……......…………………    
C. Defenisi Latar ……………………………………………………………..    
D. Macam-macam Latar Cerpen .......................................................
E.  Defenisi Alur ..............................................................................
F.  Cara Mengidentifikasi Alur ..........................................................
BAB III  PENUTUP .………………………………………….....................………        
A.Kesimpulan ………………………………………………………………..      
B.Saran ……......……………………………………………………………..        
DAFTAR PUSTAKA            …………..……………………………………………………..


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Cerpen singkatan cerita pendek. Selesai dalam sekali baca. Biasanya antara 1500 – 3000 kata (6 – 10 halaman). Hanya berisi satu tema dan satu konflik . Bercerita tentang sepenggal peristiwa dalam kehidupan tokoh. Tapi, apakah kalian pernah menulis sebuah cerpen? Mudah-mudahan pernah karena menulis sebuah cerpen itu melatih otak kita agar sinkron antara otak kiri dan otak kanan. Dengan menulis cerpen kita dilatih untuk dapat mengaplikasikan pikiran kita ke dalam sebuah kalimat atau kata.

Sebuah tulisan disini saya menyebutnya sebuah cerpen pasti di bangun oleh beberapa buah paragraph. Paragraph dibangun oleh kalimat dan kalimat sendiri merupakan perkumpulan beberapa kata sehingga membentuk sebuah makna, biasanya ada aturan lain dalam pembentukan kalimat yakni kalimat harus mengandung subjek, predikat serta objek atau keterangan.

Dalam hal  ini akan di bahas mengenai unsur intrinsik yang harus ada dalam sebuah paragraph atau lebih luasnya dalam sebuah cerpen. Karena bagaimanapun juga, sebuah cerpen itu di bangun oleh dua unsur. Yaitu Unsur Intrinsik dan Unsur Ekstrinsik.
Namanya juga Intrinsik, pasti letaknya di dalam cerpen itu sendiri. Lalu apa saja unsur intrinsik itu? Yang termaksud dalam unsur instrinsik itu adalah tokoh dan penokohan, alur, latar/setting, sudut pandang dan tema. Tapi bagaimana caranya kita dapat mengidentifikasikan unsur-unsur instrinsik itu. Selain itu, ada beberapa macam latar dalam cerpen.


B.   Rumusan Masalah

·       Apakah yang dimaksud dengan tokoh dan penokohan ?
·       Bagaimana cara mengidentifikasi tokoh cerpen ?
·       Jelaskan apa yang dimaksud dengan latar ?
·       Jelaskan macam-macam latar cerpen ?
·       Apa yang dimaksud dengan alur ?
·       Jelaskan cara mengidentifikasi alur ?

C.   Tujuan Penulisan
·      Untuk mengetahui pengertian tentang tokoh dan penokohan
·      Untuk mengetahui bagaimana cara mengidentifikasi tokoh cerpen
·      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan latar
·      Untuk mengetahui macam-macam latar dalam cerpen
·      Untuk mengetahui pengertian alur
·      Untuk mengetahui cara mengidentifikasikan alur


BAB II
PEMBAHASAN

A.       Defenisi Tokoh dan Penokohan
Tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya ada beberapa tokoh, namun biasanya hanya ada satu tokoh utama. Tokoh utama ialah tokoh yang sangat penting dalam mengambil peranan dalam karya sastra. Dua jenis tokoh adalah tokoh datar (flash character) dan tokoh bulat (round character). Tokoh datar ialah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi, misalny6a baik saja atau buruk saja. Sejak awal sampai akhir cerita tokoh yang jahat akan tetap jahat. Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini. Dari segi kejiwaan dikenal ada tokoh introvert dan ekstrovert. Tokoh introvert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh ketidaksadarannya. Tokoh ekstrovert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh kesadarannya. Dalam karya sastra dikenal pula tokoh protagonis dan antagonis. Protagonis ialah tokoh yang disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. Antagonis ialah tokoh yang tidak disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya.

Penokohan atau perwatakan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh. Ada beberapa cara menampilkan tokoh. Cara analitik, ialah cara penampilan tokoh secara langsung melalui uraian pengarang. Jadi pengarang menguraikan ciri-ciri tokoh tersebut secara langsung. Cara dramatik, ialah cara menampilkan tokoh tidak secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan, perbuatan, dan komentar atau penilaian pelaku atau tokoh dalam suatu cerita. Dialog ialah cakapan antara seorang tokoh dengan banyak tokoh. Dualog ialah cakapan antara dua tokoh saja. Monolog ialah cakapan batin terhadap kejadian lampau dan yang sedang terjadi. Solilokui ialah bentuk cakapan batin terhadap peristiwa yang akan terjadi.

Beberapa cara penulis menggambarkan tokoh-tokohnya :
·           realistis atau tidak realistis.
Realistis adalah sebagaimana manusia pada umumnya, mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tidak realistis sebaliknya adalah penggambaran tokoh yang berlebihan: yang baik digambarkan baik sekali tanpa kekurangan seperti superman, sedangkan yang buruk atau jahat digambarkan kelewat jahat tanpa ada setitik kebaikan (contoh lain: yang beruntung selalu beruntung, yang malang terlalu malang).
·           Karikaturis
Penggambaran tokoh yang ringkas dengan berlebih-lebihan menekankan ciri-cirinya yang menonjol. Penggambaran ini digunakan untuk maksud meledek, mengejek ataupun menyindir. Sering karenanya tokoh tampil lucu.
·           Stereotipical
Penggambaran tokoh yang digunakan hanya untuk mewakili gambaran umum yang dimiliki masyarakat tentang kelompok tertentu. Misalnya seorang tokoh wanita yang stereotypical adalah lemah, suka menangis dll.

B.       Cara Mengidentifikasi Tokoh dalam  Cerpen
Ada berbagai cara penggambaran watak tokoh, antara lain sebagai berikut. Coba perhatikan masing-masing paparan berikut ini, kemudian tentukan watak masing-masing  tokoh dalam kutipan-kutipan cerpen berikut ini!
1.         Cara langsung
Dalam teknik ini pengarang langsung melukiskan tokoh, baik fisiknya, sosialnya, atau kejiwaannya. Pengarang langsung memberitahukan kepada pembaca tentang watak para tokoh dalam ceritanya. Berikut ini contoh penggambaran watak secara langsung.
“Ditemani Ibu Saleha, yang juga sudah tahu duduk perkaranya, Pak RT menghadapi wanita itu. Seorang wanita muda yang meski tidak begitu cantik juga tidak tergolong jelek. Seorang wanita yang hidup dengan sangat teratur. Pergi ke kantor dan pulang ke rumah pada waktu yang tepat. Bangun dan tidur pada jam yang telah ditentukan. Makan dan membaca buku pada saat yang selalu sama. Begitu pula ketika ia harus mandi, sambil menyanyi dengan suara serak-serak basah”.
(Dikutip dari cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”, oleh Seno Gumira Ajidarma, Horison Tahun XXXIV, No. 1, Januari 2000, halaman 22).
2.         Cara tak langsung
a.     Melalui deskripsi fisik
Bentuk tubuh tokoh sering menggambarkan wataknya. Namun, cara ini harus diterapkan secara hati-hati karena belum tentu wajah yang jelek dan kasar menggambarkan watak yang kasar. Berikut ini contoh penggambaran watak melalui deskripsi fisik.
“Badannya kurus tinggi, punggungnya bungkuk udang, dadanya cekung, serta kaki pengkar, kepalanya besar, tetapi tipis di muka, serta sulah pula. Rambutnya yang tinggal sedikit sekeliling kepalanya itu telah memutih sebagai kapas dibusur. Misai dan janggutnya panjang, tetapi hanya beberapa helai saja, tergantung pada dagu dan ujung bibirnya melengkung ke bawah. Umurnya lebih tua dari setengah abad. Matanya kecil, tetapi tajam, hidungnya bungkuk, mulutnya besar, giginya hitam kotor, yang di muka keluar sebagai gigi tupai. Telinganya besar seperti telinga gajah, kulit mukanya berkarut-marut dan penuh dengan bekas penyakit cacar.
(Dikutip dari Siti Nurbaya, oleh Marah Rusli, 1979, halaman 87).
b.     Melalui ucapan tokoh
Ucapan tokoh dapat digunakan untuk menggambarkan pikiran, perasaan, sifat, kesukaannya, hal-hal yang dibencinya, atau yang lain. Contoh berikut menunjukkan hal itu.
“Kang Hermain jangan kaget,” Siti tersenyum di depan pintu kamar kontrakanku yang kumuh. “Siti hanya minta dibawa keliling Jakarta sehari ini saja.” “Sehari ini?” aku kaget karena merasa tak siap,”Mengapa tak Siti Katakan lewat surat kalau datang hari ini dan minta diantar hari ini juga?” “Mengapa Akang seperti tak mau?” wajah Siti seperti merajuk, “Keberatan mengantar Siti?” “Bukan keberatan, Ti. Tapi, aku harus minta izin karena hari ini hari kerja,” aku berkata meyakinkan Siti, “Nanti bisa dipecat aku kalau bolos. Zaman susah begini, setengah mati untuk mendapatkan pekerjaan.” Tapi, Siti tak mau mendengar alasanku.
(Dikutip dari buku kumpulan cerpen Rawa, oleh Korrie Layun Rampan, halaman 117).
c.     Melalui perbuatan tokoh
Perilaku tokoh juga dapat digunakan untuk menggambarkan watak tokoh. Berikut ini contoh penggambaran watak melalui perbuatannya. Berikut ini contoh pelukisan watak tokoh dengan menggunakan perbuatan tokoh.
“Sebenarnya, siapa sih yang menjahili adikku, buku-bukuku di kelas, menyembunyikan sepatuku, he ...!!!??
“Emangnya kenapa, itu kan salah kamu sendiri yang teledor!! Dan asal kamu tahu saja, bukan aku yang melakukannya, tahu!!”
“Apa?!! Si kurus mendelik. Mukanya memerah.
“Walaupun seandainya aku yang melakukan, kenapa kamu tidak langsung menegurku ... apa karena re... re...”.
“Rekonsiliasi maksudmu!! Bedabah! Asu!! Dasar gendut tak tahu aturan, rekonsiliasi dijadikan alasan. Kugibeng kau!!”
Tangan si kurus meraih kepala si gendut dan menjepitnya di ketiak. Si gendut sempat terhuyung, tapi akhirnya dia mampu berkelit dan memberikan perlawanan setimpal. Bogeman mentah mendarat di hidung si kurus. Merah.Ada darah mewarnai pertarungan antara dua bocah itu.
(Dikutip dari “Rekonsiliasi”, oleh M. Tsany Ubaidillah, dalam Horison, Tahun XXXVII, No. 12, Desember 2003).
d.     Melalui reaksi atau ucapan tokoh lain.
Cara ini juga banyak digunakan untuk menggambarkan watak tokoh. Contoh berikut membuktikannya.
“Tapi bukan Marto Manuk namanya jika ia putus asa sampai di situ. Ia telah dikenal begitu sabar ketika sedang memikat burung. Selama dalam perjalanan benaknya terus berputar mencari daya upaya. Dan saat ia membelokkan sepedanya di pintu pasar, sebuah akan jita muncul di benak Marto Manuk. Katuranggan. Ya katuranggan. Aku harus cepat-cepat menemui Wagiyo”
(Dikutip dari cerpen “Katuranggan”, karya Slamet Nurzaini dalam Pelajaran Mengarang: Cerpen Pilihan KOMPAS 1993).
e.    Melalui deskripsi lingkungan
Lingkungan juga dapat dimanfaatkan untuk menggambarkan watak tokoh. Tokoh yang kamarnya berantakan, banyak puntung rokok, dan ada botol bir tentu akan menggambarkan watak tokoh yang berbeda bila dibandingkan dengan tokoh yang kamarnya banyak buku, alas kasur dan bantal tertata rapi. Terang bulan. Listrik mati. Seperti biasa Naro melangkah pulang menjelang dini hari, menyusuri gang-gang kumuh yang kosong dan sepi, tapi yang kini tembok-tembok lumutannya memancar keperakan karena cahaya rembulan. Tembok-tembok masih hingar-bingar dengan grafiti warna-warni, nama-nama gang yang ganjil, dan kata-kata jorok, tak senonoh, kampungan, yang memang hanya cocok dituliskan di tembok sebuah kampung yang kumuh dengan comberan hitam kotor menggenang berbau petai seperti itu.
(Dikutip dari cerpen “Bulan di Atas Kampung”, karya Seno Gumira Ajidarma dalam Laki-laki yang Kawin dengan Peri: Cerpen Pilihan Kompas 1995, halaman 112)

C.       Defenisi Latar
Latar atau setting, latar dalam sebuah cerpen diartikan sebagai tempat, waktu ataupun keadaan alam atau cuaca ketika terjadinya peristiwa. Latar ini perlu dan harus ada dalam sebuah cerita karena pada dasarnya setiap perbuatan dan aktivitas yang dilakukan manusia tidak terlepas dari tempat, waktu dan keadaan tertentu. 


D.       Macam- Macam Latar  pada Cerpen
1.    Latar Tempat
Latar tempat mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu serta inisial tertentu.
2.    Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan masalah ” kapan ” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah ”kapan” teersebut biasanya dihubungkan dengan waktu
3.    Latar Sosial
Latar sosial mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks serta dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap. Selain itu latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.
E.       Defenisi Alur
Sebuah cerpen menyajikan sebuah cerita kepada pembacanya. Alur cerita ialah struktur penceritaan peristiwa yang jalin-menjalin berdasar atas urutan atau hubungan tertentu. Sebuah rangkaian peristiwa dapat terjalin berdasar atas urutan waktu, urutan kejadian, atau hubungan sebab-akibat. Jalin-menjalinnya berbagai peristiwa, baik secara linear atau lurus maupun secara kausalitas, sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh, padu, dan bulat dalam suatu prosa fiksi. Lebih lanjut Stanton mengemukakan bahwa plot ialah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat, peristiwa yang disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.Plot ialah peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab-akibat dan pastinya harus logis. Alur meliputi beberapa tahap yaitu :
1.  Pengantar : bagian cerita berupa lukisan , waktu, tempat atau kejadian yang
merupakan awal cerita.
2.  Penampilan masalah : bagian yang menceritakan maslah yang dihadapi pelaku
cerita.
3.  Puncak ketegangan / klimaks : masalah dalam cerita sudah sangat gawat,
konflik telah memuncak.
4.  Ketegangan menurun / antiklimaks : masalah telah berangsur – angsur dapat
diatasi dan kekhawatiran mulai hilang.
5.  Penyelesaian / resolusi : masalah telah dapat diatasi atau diselesaikan

F.       Cara Mengidentifikasi Alur dalam Cerpen
Apakah kamu masih ingat yang dimaksud dengan alur ? Suatu cerita hampir selalu selalu dengan memperkenalkan latar, tokoh, dan hubungan antartokohnya. Dalam cerpen  terdiri atas serangkaian kejadian yang saling
berhubungan dan membentuk jalinan cerita yang disebut alur atau plot. Kejadian yang satu menjadi sebab atau akibat bagi kejadian yang lain. Ditinjau dari arah gerak ceritanya, alur dibedakan atas alur maju (progresi/
linier), alur mundur (regresi) dan alur campuran (maju-mundur).

Alur maju atau disebut juga alur kronologis (alamiah) diawali dengan
eksposisi, adegan ditampilkannya tokoh-tokoh penting dan latar kehidupannya. Disusul konflik, yaitu munculnya persoalan akibat terjadinya
perselisihan tokoh. Bila konflik itu tidak teratasi, akan membesar, meluas, dan menjadi kompleks. Dalam tahap komplikasi ini, banyak tokoh lain yang
terseret dalam persoalan. Puncak dari konflik, vaitu klimaks, saat persoalan mencapai titik paling menegangkan. Biasanya ini merupakan bagian yang
paling mendebarkan dan dinanti-nantikan oleh penonton. Sebelum menuju
ke akhir cerita atau konklusi, tokoh melewati tahap peredaan masalah atau
antiklimaks. Bila digambarkan, grafik alur cerita yang bergerak maju seperti di atas adalah seperti berikut:

Dalam alur maju, sering kali terjadi kilas balik cerita (flash back), yaitu cerita berbalik sejenak ke masa lalu. Berbeda dengan alur maju, cerita alur mundur dimulai dari bagian akhir. Namun, ada juga yang diawali dari tengah cerita. Alur seperti ini disebut sebagai alur gabungan.

Cerita dalam cerpen tidak akan bergerak apabila semua tokoh memiliki watak, sikap, pandangan, dan harapan yang sama. Cerita bergerak karena muncul konflik yang dipicu oleh adanva perbedaan perbedaan antar tokoh. Konflik tidak selalu terjadi secara eksternal, yaitu antara tokoh dengan tokoh yang lain, tetapi bisa juga terjadi antara tokoh dengan dirinya sendiri (konflik internal). Selain itu, konflik juga dapat terjadi antara tokoh dengan keadaan alamiah dan sosial budaya di sekelilingnva dan dengan kepercayaan / keyakinan hidupnva (konflik batin/moral). Konflik social biasanya terjadi saat tokoh tidak mampu beradaptasi dengan nilai-nilai vang berlaku di masyarakat.



BAB III
PENUTUP
A.       Kesimpulan
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa
1.         Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan (memiliki sifat/watak) di dalam berbagai peristiwa dalam cerita. Berdasarkan peranannya dalam cerita, tokoh dibedakan menjadi tiga yaitu tokoh utama, tokoh pembantu, dan figuran.
Sedangkan berdasarkan wataknya, tokoh dibagi menjadi tiga yaitu tokoh protagonis (tokoh baik), tokoh antagonis (tokoh jahat), dan tokoh tritagonis (tokoh penengah)

2.         Penokohan adalah cara pengarang dalam menyajikan/menggambarkan watak tokoh dan penciptaan citra tokoh.
Penokohan secara umum dibedakan menjadi dua yaitu :
·      Penokohan secara langsung (analitik)
Artinya pengarang secara langsung menjelaskan watak/citra dari tokoh tersebut dengan kata-kata.
Misalnya bahwa tokoh A adalah orang yang cerewet dan suka mengadu domba. Atau bahwa fisik tokoh B adalah cantik, rambutnya hitam tergerai, dsb.

·      Penokohan secara tidak langsung  (dramatik)
Artinya penggambaran `watak/citra tokoh dilakukan secara tersamar.
Pada penokohan jenis ini, pembaca bisa menyimpulkan watak seorang tokoh dari :
n   pikiran tokoh
n   dialog/ucapan tokoh
n   tingkah laku/tindakan tokoh
n   lingkungan sekitar tokoh
n   reaksi/tanggapan dari tokoh lain
n   keadaan fisik tokoh
3.         Latar adalah segala keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakuan/peristiwa dalam cerita.
Latar terbagi menjadi tiga yaitu :
n  Latar waktu
n  Latar tempat
n  Latar suasan/sosial
4.         Alur adalah rangkaian/jalinan antar peristiwa/ lakuan dalam cerita.
Sebuah cerita sebenarnya terdiri dari berbagai peristiwa yang memiliki hubungan sebab -akibat.
Misalnya karena ada peristiwa 1 (pacarnya lari) maka akibatnya terjadilah peristiwa 2 (tokoh A frustasi). Jalinan itu yang dinamakan alur/plot.
5.      Jenis-jenis
·      Alur maju (alur lurus) yaitu rangkaian peristiwanya bergerak maju dari awal ke akhir (kronologis)
·      Alur mundur (alur flashback) yaitu rangkaian peristiwanya bergerak mundur dari akhir ke awal (set back)
·      Alur campuran (maju-mundur) yaitu rangkaian peristiwa bergerak secara acak.
6.     
B.       Saran
1.     Agar supaya pembaca mencari materi secara detail seperti dalam makalah ini.
2.     Pembaca dapat mencari referensi-referensi lain yang terkait dengan materi dalam makalah ini
3.     Pembaca memberi saran dalam pembuatan makalah saya selanjutnya agar makalah ini dapat menjadi lebih baik kedepannya
Daftar Pustaka




Bakri,Umar.2009.guru-umarbakri.blogspot.com.<http://guru-umarbakri.blogspot.com/2009/10/kesastraan.html>.10.2009.

Suryanto,Alex;Haryanta,Agus.2007.Panduan Belajar Bahasa Dan Sastra Indonesia.Tengerang:Erlangga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Welcome